Fostering The Growth Mindset in Classroom (1)

Bagaimana sebenarnya cara kerja pikiran—dan khususnya, bagaimana cara ia belajar? Keputusan langkah pembelajaran yang dilakukan guru pada umumnya  didasarkan pada beberapa hal yaitu pemahaman  teori yang dipelajari dalam pendidikan guru, coba-coba, hasil training, dan insting (Vingerhoets, 2018). Hal seperti ini telah memberikan manfaat dalam proses pembelajaran, namun adakah yang lebih kokoh  untuk diandalkan dalam pembelajaran masa depan?

            Sains kognitif adalah bidang interdisipliner peneliti dari psikologi, ilmu saraf, linguistik, filsafat, ilmu komputer, dan antropologi yang berusaha memahami pikiran.

Pada tahun 1980-an dan 1990-an, Dweck dan timnya melakukan penelitian dengan memberi tahu anak-anak bahwa penting untuk berhasil dalam suatu tugas tertentu. Beberapa anak diberitahu dan diyakinkan bahwa mereka tidak pandai dalam tugas itu, dan pada dasarnya hal ini telah menyebabkan mereka berhenti berusaha. Mereka berpikir bahwa kesalahan mereka berarti mereka tidak bisa berhasil.

            Anak-anak lain diberi tahu bahwa mereka dapat mengerjakan tugas dengan baik, peneliti memberi tahu anak-anak ini bahwa mereka pasti memiliki banyak kemampuan untuk tugas itu. Anak-anak ini bekerja keras—mereka ingin mempertahankan kesuksesan—tetapi mereka juga melewatkan kesempatan untuk belajar lebih banyak. Diberi pilihan antara versi tugas yang mudah atau lebih menantang, mereka memilih versi yang mudah untuk memastikan bahwa mereka terus berhasil.

            Kelompok anak ketiga diberi tahu bahwa tujuan utama dari tugas tersebut adalah agar mereka terus belajar dibandingkan hanya untuk memperoleh hasil terbaik. Bagi mereka, tidak masalah apakah menurut mereka tingkat keahlian mereka saat ini tinggi atau rendah. Mereka bertahan, dan diberi pilihan, mereka memilih versi tugas yang lebih menantang, mereka ingin belajar dari kesalahan mereka.

            Penelitian lain dari tim Dweck mengeksplorasi mengapa anak-anak memilih tujuan untuk belajar atau berprestasi dengan baik? Dalam satu percobaan, siswa kelas 5 mengerjakan serangkaian 10 masalah dan semuanya diberi tahu bahwa mereka telah melakukannya dengan baik. Selain itu, ada yang dipuji karena kecerdasannya (“Kamu pasti pintar dalam masalah ini”), sedangkan yang lain dipuji karena usahanya (“Kamu pasti sudah berusaha keras untuk masalah ini”). Namun yang lain tidak diberi umpan balik lebih lanjut. Anak-anak kemudian diberi kesempatan untuk memilih masalah yang digambarkan sebagai mudah (dan mungkin mereka akan bisa menyelesaikan dengan benar), atau masalah yang rumit sehingga harus belajar lebih banyak (sehingga mungkin terlihat tidak pintar).

            Hasilnya mengejutkan: anak-anak yang dipuji karena kecerdasannya memilih masalah yang mudah—mereka ingin sukses dan khawatir terlihat tidak pintar. Anak-anak yang dipuji karena usaha mereka memilih tugas yang sulit karena mereka ingin belajar. Dan ketika diberi pilihan antara menemukan bagaimana anak-anak lain melakukan masalah atau mempelajari strategi baru untuk memecahkan masalah, anak-anak yang dipuji karena kecerdasan mereka ingin mengetahui bagaimana kinerja orang lain. Anak-anak dipuji atas usahanya, sebaliknya, ingin mempelajari strategi baru (Brock & Hundley, 2016). Inilah beberapa penelitian awal yang menjadi cikal bakal tumbuhnya ilmu tentang bagaimana cara kerja pikiran manusia yang belakangan dikenal dengan fixed dan growth mindset.

  • Mengapa Growth Mindset Diperlukan?

Akibat Revolusi Industri 4.0 akhir-akhir ini, sampai dengan 2025 ada 97 juta pekerjaan baru yang akan menggantikan 85 juta pekerjaan lama (WEF, 2020). Untuk itu maka diperlukan SDM yang senantiasa bisa berkembang dari waktu ke waktu. Selama proses berkembang tentu akan menghadapi berbagai macam tantangan yang harus dihadapi dengan keteguhan (tahan banting). Keras dan tajamnya persaingan dalam menghadapi peerubahan, maka hasil dari perubahan itu sendiri haruslah sesuatu yang terbaik bukan asal saja menghasilkan sesuatu yang baru dengan kualitas apa adanya.  Hasil yang berkualitas tidak bisa dipisahkan dari proses yang berkualitas pula, dan disinilah kreativitas dan inovasi menjadi kunci dalam setiap perubahan yang akan memenangkan persaingan (Murphy & Reeves, 2019). 

Untuk itu maka dibutuhakn berbagai macam ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang relevan untuk bisa mewujudkan dudaya inovasi dan kecepatan dalam merespon serta mengantisipasi masa depan. Growth mindset merupakan salah satu faktor yang sangat dibutuhkan untuk menghasilkan inovasi-inovasi baru baik dalam skala individu maupun dalam skala institusi bahkan untuk suatu negara.

Growth mindset atau yang dikenal sebagai pola pikir berkembang pada manusia dapat membuat kehidupan menjadi semakin maju dan bahkan sebaliknya. Growth mindset adalah cara berpikir berkembang terhadap diri sendiri sehingga dapat mempengaruhi perasaan untuk meningkatkan kecerdasan dan kemampuan yang dimiliki (Brock & Hundley, 2016). Cara berpikir tersebut dapat berasal dari kemampuan dasar yang dimiliki seseorang atau keterampilan dan kebiasaan baru yang bisa dikembangkan. Salah satu iklim yang dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan berpikir berkembang adalah lingkugan sekolah.

Penelitian Carol Dweck (2008) menunjukkan bahwa memiliki growth mindset berkolerasi  dengan prestasi akademik yang lebih tinggi. Kesuksesan tidak dipengaruhi oleh kemampuan bawaan, melainkan oleh pola pikir (mindset)  dan keinginan untuk mencapai potensi dan kemampuan yang setinggi-tingginya .

Siswa yang memiliki keyakinan bahwa gurunya mendukung tumbuhnya pola pikir berkembang memiliki pengalaman belajar yang lebih baik, khususnya rasa memiliki yang lebih besar, dan tingkat kecemasan yang lebih rendah. Mereka lebih antusias dan terlibat secara luas dalam berbagai kegiatan yang mendorongnya menjadi pribadi yang sukses dalam bidang akademiknya. Tentu saja setiap individu memiliki karakteristikan pertumbuhan pola pikir yang beragam, sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial, pengalaman belajar, dan intensitas usaha yang dilakukan (Kroeper et al., 2022).

Ketika seorang guru berhasil menciptakan ekosistem belajar yang dapat mendukung berkembangnya pola pikir siswa, yang diwujudkan dalam bentuk kehangatan perilaku mengajar, senantiasa mendorong setiap siswa untuk berani mencoba dan terus mencoba tidak peduli berapa kali ia gagal dan mengalami kesalahan. Guru senantiasa konsisten untuk memberi kesempatan siswanya bertanya dan berkonsultasi,  selalu memberi umpan balik yang konstruktif, menanggapi kesulitan siswa dengan dukungan dan perhatian tambahan, dan menghargai setiap kemajuan belajar. Hal ini akan semakin mengokohkan tumbuhnya keyakinan bagi siswa bahwa dirinya bisa tumbuh dan berkembang. Inilah pondasi dan ekosistem kelas yang dibutuhkan untuk layanan pengebangan growth mindset di sekolah (Macnamara & Burgoyne, 2022a).

  • Untuk Apa Memahami Growth Mindset?

            Tulisan ini disusun untuk membantu menumbuhkan kesadaran bahwa kemampuan manusia itu bisa berubah dan berkembang. Hal ini sesuai dengan makna dari belajar, bahwa belajar pada hakikatnya yaitu terjadinya perubahan yang disengaja baik perubahan kognitif, psikomotorik, maupun sikap ke arah yang lebih baik, dan prinsip belajar itu sejak dalam buaian hingga akhir kehidupan (Zeeb et al., 2020). Dalam perspektif sebagaian masyarakat bahwa belajar itu hanya berlaku bagi mereka yang sedang sekolah atau kuliah, padahal berubah menjadi lebih baik seharusnya terjadi setiap waktu sesuai perkembangan zaman. Untuk itu dibutuhakan adanya keyakinan bahwa dengan adanya perubahan dan ketidakpastian maka kemampuan seseorang perlu dan bisa berubah agar bisa beradaptasi dan menyesuiakn dengan situasi baru yang terjadi.  Kemampuan bukan sesuatu yang bersifat statis, tapi akan berubah sesuai proses belajar dan kerja keras yang dilakukan.

            Hasil survei Coursera (2023) di 11 negara menunjukkan 88 persen pengguna lulusan perguruan tinggi meyakini bahwa sertifikat profesional akan menjadi dokumen penting dalam pelamaran kerja. Dari survei tersebut disimpulkan bahwa pendidikan bergelar yang dilengkapi dengan non-gelar (sertifikat profesional) inilah yang dikehendaki dunia industri masa depan.  Bagaimana kaitan hasil survey ini dengan gagasan growth mindset?  Minimal ada dua hal penting yang menjadi pelajaran yaitu bagi mereka yang sedang belajar hendaknya menyadari bahwa peran ijazah dan gelar akan semakin melemah kecuali yang di lengkapi dengan sertifikat kompetensi.  Sedangkan bagi para pengelola lembaga pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan tinggi hendaknya bersegera dan berani mengambil suatu inisiatif perubahan agar bekal pendidikan yang disiapkan relevan dengan kebutuhan masa depan.

  • Apa itu Growth Mindset?

            Berdasarkan pada pendapatnya  Carol Dweck, seorang psikolog dari Stanford University, bahwa seseorang dapat dikategorikan berdasarkan keyakinannya terhadap kemampuan yang dimiliki (Wiguna & Netra, 2020).  Ada orang yang meyakini bahwa kemampuannya bersifat konstan (fixed mindset), tidak dapat dirubah, sedangkan sebagian yang lain berpandangan bahwa kemampuannya dapat dikembangkan dan berkembang melalui usaha dan belajar (growth mindset) .

  • Perbedaan Fixed Mindset dan Growth Mindset

            Penganut fixed mindset adalah suatu keyakinan bahwa kemampuan seseorang dan kecerdasan seseorang bersifat tetap dan tidak dapat diubah. Fixed mindset memandang bahwa proses pembelajaran lebih fokus pada sesuatu, menghindari tantangan baru, dan menghindari kegagalan karena hal itu dianggap tidak mampu.

            Di sisi lain, growth mindset berkeyakinan bahwa kemampuan dan kecerdasan seseorang dapat dikembangkan dan ditingkatkan melalui kerja keras, pembelajaran, dan ketekunan (Rahardi & Dartanto, 2021). Pendekatan pembelajaran ini mendorong individu untuk mengambil tantangan, menerima kesalahan sebagai kesempatan belajar, dan melihat potensi mereka sendiri untuk tumbuh dan berkembang (Murphy & Reeves, 2019).  Penelitian telah menunjukkan bahwa individu dengan growth mindset cenderung memiliki tingkat motivasi, pencapaian, dan ketahanan yang lebih tinggi, karena mereka lebih cenderung menghadapi tantangan dan bertahan dalam menghadapi tantangan (Thapa et al., 2016). Sebaliknya, mereka yang memiliki fixed mindset mungkin lebih cenderung menyerah saat menghadapi tantangan atau menghindarinya sama sekali.

            Secara keseluruhan, growth mindset dapat digunakan dalam menginovasi  pendekatan pembelajaran dan pengembangan yang lebih positif dan produktif, karena mendorong individu untuk melihat potensi mereka sendiri untuk tumbuh dan berkembang.

  • Prinsip  Growth Mindset

            Prinsip growth mindset adalah suatu cara memandang yang akan memberikan ruang terjadinya growth mindset dalam kehidupan sehari-hari (Joshi & Patrick, 2016). Beberapa diantaranya yaitu:

  1. Menyadari kegagalan bukanlah tanda ketidakmampuan, karena pemiliki growth mindset sangat menghargai proses, dan belajar adalah salah satu proses yang harus menyenangkan bagi mereka. Kegagalan bukanlah akhir, namun kegagalan akan mejadi pijakan untuk belajar lagi sehingga mencapai kesuksesan.
  2. Melihat masalah sebagai tantangan yang harus diselesaikan, karena dengan menghadapi masalah akan mendorong pemilik growth mindset belajar lagi hal-hal baru yang sebelumnya belum dikuasai. Hal inilah yang akan menyebabkan pemilik growth mindset bisa terus bertumbuh.
  3. Menjadi produktif, karena pemilik growth mindset terus bertumbu menjadi lebih baik, semakin baik, dan terus menjadi yang terbaik maka tentuk akan berdampak pada tingginya produktivitas seseorang.  Produktivitas tidak hanya menyangkut bertambahnya jumlah dan kualitas, namun tentu saja adanya relevansi dan kebaruan (Vingerhoets, 2018).
  4. Mendorong seseorang untuk percaya diri, karena seseorang senantiasa mudah bertumbuh, beradaptasi, dan produktif, maka pemilik growth mindset selalu berada di depan. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor tumbuhnya rasa percaya diri yang besar. Merekalah pemilik masa depan yang gemilang.   
Meningkatkan kecerdasan dan bakat seseorang. Pemilik growth mindset tidak pernah berhenti untuk belajar, berlatih, dan mencoba hal-hal baru sepanjang waktu. Tentu saja hal ini akan mendorong kecerdasan dan bakatnya semakin terasah secara optimal.   Ibarat pisau yang dipakai dan selalu diasah, maka akan semakin tajam dan manfaatnya semakin dirasakan di setiap saat.    
  • Semangat belajar sepanjang hidup. Pemilik growth mindset tidak pernah belajar karena perubahan terust terjadi di hadapannya.  Belajar seperti nafasnya dalam kehidupan, artinya selagi ia bernafas makai a akkan terus belajar, yang dampaknya tentu saja ia terus bertumbuh menuju puncak terbaiknya.
  • Lihat umpan balik sebagai sumber informasi dan kesempatan untuk belajar Umpan balik adalah salah satu inti dalam roses belajar. Belajar melalui umpan balik sangatlah fokus pada terjadinya perubahan, karena apa yang harus dipelajari telah tertuang pada isi umpan balik itu sendiri.   Intensitas umpan balik yang direspon sebagai suatu sumber informasi untuk belajar akan semakin meningkatkan kecepan perubahan karena melalui umpan balik belajar akan terjadi secara efektif efisien (Pelletier et al., 2020).
  • Tidak takut menghadapi tantangan, karena tantangan akan membukan medan belajar yang baru.  Tantangan akan membawa pemilik growth mindset pada situasi baru yang lebih baik, lebih maju, lebih luas, tentu akhirya akan sampai pada pencapaian baru.   
  • Nikmati perubahan, sehingga mengurangi kelelahan.  Bagi mereka yang tidak siap melakkan perubahan, ia akan merasa berat untuk berubah sehingga akan mudah melelahkan fisik dan psikologis.   
  • Ringankan pikiran, karena masalah psikologis lebih sedikit, seperti depresi dan kecemasan sangat berkurang.  Jika perubahan bisa dinikmati, maka tentu akan meringankan tingkat kecemasan dalam menghadapi perubahan yang tentu saja akan mengeliminer terjadi depresi.  Di beberapa negara maju, sebagian penduduknya mengalami depresi berat, sehingga mengambil jalan pintas dengan bunuh diri.  Hal ini tidak akan dialami oleh mereka pemilik growth mindset (Stiskin, 2022).
  • Manfaat Growth Mindset dalam Pendidikan

            Ada banyak manfaat mempromosikan kemampuan ini dalam pendidikan, baik untuk siswa secara individu maupun untuk kelas dan sekolah secara keseluruhan (Yu et al., 2022). Beberapa manfaat dari kemampuan ini dalam pendidikan antara lain.

  • Peningkatan Motivasi dan Keterlibatan

Siswa dengan mindset berkembang lebih cenderung termotivasi untuk belajar dan terlibat dalam studi mereka, karena mereka percaya bahwa upaya mereka akan mengarah pada peningkatan dan kesuksesan.

  • Ketahanan dan Kegigihan yang Lebih Besar

Siswa dengan mindset berkembang lebih cenderung bertahan dalam menghadapi tantangan, karena mereka melihatnya sebagai peluang untuk tumbuh dan belajar.

  • Peningkatan Kinerja

Penelitian telah menunjukkan bahwa siswa dengan kemampuan ini cenderung mencapai hasil akademik yang lebih baik dan memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan siswa dengan pola pikir tetap.

  • Peningkatan Kreativitas dan Keterampilan Pemecahan Masalah

Kemampuan ini mendorong siswa untuk mengambil risiko, mencoba pendekatan baru, dan berpikir kreatif, yang dapat mengarah pada pengembangan keterampilan pemecahan masalah yang berharga.

  • Kesejahteraan Keseluruhan yang Lebih Besar

Siswa dengan kemampuan ini cenderung memiliki pandangan yang lebih positif dan cenderung memiliki harga diri yang lebih tinggi dan lebih sedikit stres.

Secara keseluruhan, mempromosikan kemampuan ini dalam pendidikan dapat memiliki banyak manfaat bagi siswa dan dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendukung. (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Hubungi Admin