Pada bagian pertama ini akan diuraikan pilar-pilar utama menjadi orangtua sukses, khususnya dalam mendidik, mengasuh, dan mendampingi anak-anak.
- Pondasi Pendidikan Anak
Untuk menjalankan tugas sebagai orangtua dalam mendidik anak, maka kiat pertama yang bisa dilakukan sangat sederhana, yaitu mengikuti tradisi dan ajaran agama.
- Memperdengarkan adzan di telinga kanan, dan iqomah di telinga kiri, yang dilakukan oleh ayah sang bayi. Inilah pendidikan tauhid pertama kali yang dilakukan oleh seorang ayah pada setiap anaknya yang lahir. Dalam kehidupan yang sangat menyibukkan, dimungkinkan seorang ayah, tidak dapat mendampingi istrinya saat melahirkan, sehingga pendidikan tauhid ini terlewatkan.
- Mentahnik anak yang baru lahir. Tahnik bayi dilakukan dengan mengunyah kurma sampai halus, kemudian mengambil kunyahan kurma tersebut dengan ujung jari, lalu ditempelkan dan gosokkan, sembari sedikit diputar atau dipijat pada langit-langit mulut bayi.
- Semua nama anak saya berawalan huruf A. Hal ini terjadi atas saran dari neneknya agar saat sekolah daftar hadirnya tidak berada pada urutan terakhir. Melakukan aqiqoh, mencukur rambut, dan bersedekah dilakukan secara sederhana, yang penting sunnah-sunnah ini dilakukan secara menyeluruh.
- Pengasuhan 2 Tahun Pertama
Pengasuhan 2 tahun pertama ini disesuaikan dengan masa memberi air susu ibu (ASI). Ada tiga hal yang saya lakukan untuk pengasuhan 2 tahun pertama yaitu:
- Memberi anak ASI selama 2 tahun. Untuk bisa mewujudkan ini maka kami saling berbagi peran dan istri, serta saling menguatkan dan bersabar hingga setiap anak kami mendapatkan ASI selama 2 tahun. Dasar berpikirnya sederhana, yaitu Allah menganjurkan untuk menyusui selama 2 tahun, maka kami berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menunaikannya.
- Menuntaskan toilet training tanpa pampers. Dalam keseharinnya anak-anak dibiasakan untuk ditatur saat akan membuang air kecil dan buang air besar. Saat anak-anak sudah bisa duduk sendiri aktivitas ini dilakukan di toilet di kamar mandi. Aktivitas ini tampak sederhana, namun membutuhkan kesabaran, telaten, hingga anak-anak menjadi mandiri. Selain anak mencapai tumbuh kembang yang optimal, kita lebih mudah menjaga kebersihan dan kesucian lingkungan rumah walaupun di rumah ada balita.
- Mengasuh sendiri anak tanpa asisten rumah tangga. Mengasuh sendiri anak tanpa asisten rumah tangga bukan hal yang mudah. Ini adalah pilihan yang membutuhkan komitmen bersama suami istri. Saling membantu, saling memahami keadaan, dan tentu saling berlapang dada dalam segala situasi akan menjadi kunci keberhasilannya. Pilihan ini diilhami untuk merekatkan hubungan anak dan orangtua (bounding), sebagai modal untuk pendidikan tahap berikutnya.
- Pembentukan Karakter Dasar
Proses ini saya sebut sebagai pembentukan karakter dasar, karena pembentukan karakter pada hakikatnya menjadi tugas utama orangtua, sebelum anak-anak bersekolah. Tiga hal yang menjadi perhatian pada rentang usia 3-4 tahun ini yaitu kemandirian, rasa ingin tahu, dan adab.
- Mandiri melayani dirinya. Kemandirian dimulai dari hal-hal yang sederhana, seperti makan sendiri, belajar berpakaian sendiri, mengambil dan menata mainan yang telah digunakan. Tugas orang tua memberi kesempatan anak melakukannya, dan membantu secukupnya tanpa mengambil alih peran yang sedang dilakukan, serta menemaninya dengan tulus dan konsisten.
- Memupuk rasa ingin tahu yang tinggi. Menumbuhkan dan memupuk rasa ingin tahu yang tinggi pada anak dapat dilakukan secara langsung antara orangtua dan anak dalam semua aktivitas anak. Kesabaran orangtua untuk selalu memberikan respon dan sudut pandang yang positif dengan semua prilaku anak, akan menggugah rasa ingin tahu. Demikian juga memaknai secara positif setiap hal yang dialami anak, sementara itu sarana dan ragam stimulasi juga akan melengkapi dua upaya sebelumnya.
- Mengenalkan dan membiasakan adab sesuai usianya. Adab menjadi inti terpenting tahapan ini. Orangtua, anggota keluarga, dan lingkungan rumah akan dicontoh oleh anak-anak kita. Membiasakan anak dengan adab yang baik dan mulai mengikuti aktivitas ibadah dapat dilakukan orangtua dalam kehidupan sehar-hari secara konsisten. Selain menanamkan adab-adab yang baik, pada usia ini anak perlu berlatih untuk menahan diri terhadap hal-hal yang diperbolehkan, tapi akan berdampak buruk jika berlebihan. Kemampuan menahan diri ini juga akan menjadi ciri anak yang tumbuh menjadi dewasa.
- Memilih Sekolah Yang Tepat
Sekolah formal pada dasarnya merupakan kelanjutaan dari proses pendidikan yang telah dimulai di keluarga. Saat memilih sekolah saya bermusyawarah dengan istri, dan bersama-sama mengajak anak berkunjung ke beberapa sekolah, hingga disepakati pilihan sekolah untuk anak. Ada tiga hal yang dipertimbangkan untuk memilih sekolah yaitu kesesuaian dengan visi keluarga dalam pendidikan, kemampuan ekonomi, dan kemudahan secara teknis.
- Memilih sekolah KB, TK, SD, dan SMP untuk anak, lebih dominan ditentukan oleh kami sebagai orangtua. Sekolah yang dipilih yaitu sekolah yang para gurunya bisa menjadi teladan dalam pembentukan adab, proses pembelajaran yang menstimulasi anak memiliki budaya belajar, mengembangkan bakat dan minat, serta ekosistem sekolah yang kondusif.
- Banyak sekolah yang sangat bagus, dengan biaya yang relatif mahal. Untk itu memilih sekolah juga mempertimbangkan kemampuan ekonomi keluarga, dengan tetap berusaha memberikan pilihan sekolah yang terbaik buat si buah hati.
- Memilih sekolah untuk anak, juga mempertimbangkan masalah-masalah teknis seperti jarak rumah ke sekolah, bagaimana anak-anak harus berangkat dan pulang dari sekolah, kemudahan orangtua untuk bisa berkomunikasi dengan guru dan sekolah, keluangan waktu dan keaktifan orangtua untuk mengikuti agenda-agenda sekolah.
- Merencanakan Karir Sejak Dini
Merencanakan karir sejak dini sangat penting, agar perjalanan hidup anak-anak kita tertata dan tidak terlambat dalam menentukan pilihan. Pijakan perencanaan karir anak kami yaitu “menjadi baik itu wajib, sedaangkan berkarir itu bonus hidup”. Prinsip ini dipilih karena anak-anak kami ketiganya perempuan, dan kami ingin menunaikan perintah Allah SWT yaitu jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Untuk itu maka ada 3 hal yang menjadi fokus pendidikan untuk mewujudkan cita-cita karir anak-anak kami yaitu, memilih SMA dan Perguruan Tinggi sebagai pijakan profesi, belajar secara informal untuk menyempurnakan diri, dan mempersiapkan diri menuju pernikahan.
- Memilih SMA dan Perguruan Tinggi sebagai pijakan profesi. Berbeda dengan saat memilih KB, TK, SD, dan SMP, maka memilih SMA dan Perguruan Tinggi, lebih banyak ditentukan oleh anak-anak. Peran yang kami lakukan memberi penjelasan tentang pilihan anak-anak, apa sisi positifnya, apa tantangannya, bagaimana mengantisipasi dan menyelesaikan jika menghadapi situasi sulit, serta memberikan gambaran tentang prediksi masa depan yang akan dilaluinya.
- Menyempurnakan diri dengan belajar secara informal. Sekolah dan kuliah saya yakini pasti tidak cukup untuk memberikan semua bekal kehidupan yang dibutuhkan anak. Untuk itu maka upaya mendidik anak juga dilakukan dengan proses pendidikan secara informal, melalui kegiatan-kegiatan training, seminar, diskusi, aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, remaja masjid, karang taruna, dan berbagai kegiatan-kegiatan penigngkatan bekal hidup yang bermanfaat. Membangun ekosistem bagi anak sebagai pusat pengembangan dan perbaikan diri secara terus menerus menjadi hal yang sangat penting, agar warna kebaikannya semakin pekat dan tidak mudah tergelincir pada kehidupan yang buruk.
- Mempersiapkan diri menuju pernikahan. Pertama, untuk mendapatkan jodoh yang baik, maka perbaikilah dirimu, inilah prinsip yang kami tanamkan pada anak-anak. Kedua, dalam mengelola rumah tangga, maka cintailah pasangan hidup dengan tulus, syukurilah kelebihan yang dimiliki pasangan hidup, dan bersabarlah dengan kekurangannya. Ketiga, dalam mengelola konflik prioritaskan musyawarah, berilah nasehat dengan baik, berpisah ranjang untuk beberapa waktu, datangkan penengah dari keluarga, tidak memposting di media sosial, bersabarlah, dan berkomitmenlah untuk menjaga keutuhan rumah tangga karena hal ini sesuatu yang dicintai Allah SWT. Terlalau sibuk dalam berkarir, kurang berhati-hati dalam bergaul, tidak tinggal serumah, bahkan ada di kota lain atau bekerja di luar negeri juga menjadi pemicu munculnya konflik dalam rumah tangga. Kembanglah karir yang ramah pada keutuhan keluarga, dan terjaganya hubungan dengan anak-anak kita karena itulah salah satu komitmen berumahtangga.