AGILE EDUCATION: Suatu Pilihan atau Keterpaksaan

moh zahri jsit
  1. Dunia Kini dan Masa Depan

            Di era disrupsi dan revolusi industri 4.0 dengan segala karakteristiknya seperti VUCA, yang menyentuh bidang  ekonomi, social, politik, teknologi, industri , dan lain sebagainya membuat kita harus memikirkan ulang esensi pendidikan. Sejak tahun 2019 dunia digoncangkan dengan isu disrupsi, dan revolusi industri 4.0 yang merubah tatanan kehidupan dengan sangat cepat dan memporak-porandakan berbagai sektor yang selama ini sudah mapan.  Taksi online menjadi contoh paling mudah dilihat di Indonesia.  Tak luput dunia pendidikanpun bergeliat untuk merespon situasi terbaru, sehingga implementai e-learning didorong lebih masif, muncul literasi big data, artificial intellegence menjadi sangat populer, internet of thing mulai digunakan banyak lapisan, dan manusia menyadari bahwa kini VUCA akan menjadi  “the new normal”. 

Namun hiruk pikuk perubahan ini menjadi agak lengang ketika masuk di akhir tahun 2019, yaitu saat wabah virus corona muncul, dan menjangkiti hampir seluruh belahan bumi.  Wabah Covid 19 telah merontokkan seluruh sektor kehidupan manusia, hingga dalam kehidupan beragama sekalipun. Sudah sebulan anak-anak belajar di rumah, dan guru mengajar dari rumah.  Konsep merdeka belajar dan kampus merdeka yang di dengungkan oleh Kemdikbud seakan mendapat jawaban, bahwa kini proses pendidikan telah berubah total seiring dengan Covid 19.   

  • Pendidikan Masa Depan

Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan hasil akhirnya adalah sumber daya manusia yang mampu mengelola bumi secara arif dan cerdas agar kemakmurannya semakin dapat dirasakan di masa depan.  Sebagai lembaga formal sekolah sangat penting untuk keberhasilan seseorang dan kemajuan sebuah bangsa.  Pada hakikatnya sekolah bertugas untuk menghasilkan sumber daya manusia berkualitas yang dapat menciptakan perubahan, bukan hanya mampu menyesuaikan dan mengikui perubahan.  Tragisnya hingga saat ini, pada umumnya justru sebaliknya, kondisi sekolah terpaksa berubah, karena terjadinya perubahan di lingkungan masyarakat dan bangsa.  Kecepatan sekolah untuk menghasilkan sumber daya manusia yang mampu menciptakan perubahan untuk masa depan, cenderung lebih lambat dibandingkan terjadinya perubahan dalam kehidupan itu sendiri.  

Namun akhir-akhir ini, sudah lumayan ada kemajuan, minimal ada kesadaran masyarakat dan dunia pendidikan tentang datangnya arus perubahan, dan muncul keyakinan bahwa kita harus berubah.  Tentu kemajuan ini harus disyukuri, dan ditindaklanjuti dengan kesiapan sikap dan kompetensi untuk mewujudkan tujuan perubahan itu.

Pada hakikatnya tugas sekolah itu ada dua yaitu menjalankan fungsi pendidikan dan fungsi pembelajaran.  Tentu saja kedua fungsi tersebut sama-sama dibutuhkan, karena satau sama lain saling mempengaruhi.  Proses pendidikan akan menghasilakan Akhlak/Karakter pada diri seseorang, sementara itu proses pembelajaran akan menghasilkan kompetensi. Ada 3 tipe kondisi seseorang di lapangan. Pertama orang yang memiliki Akhlak tinggi, namun kompetensinya rendah, maka mereka bisa menjadi pekerja yang baik tetapi barangkali tidak bisa berkontribusi untuk perubahan di lingkunganya.  Tipe kedua yaitu seseorang yang memiliki kompetensi tinggi, namun akhlaqnya kurang baik maka  mereka bisa menjadi orang yang bisa berkontribusi pada lingkungannya sesuai kompetensi yang dikuasainya namun banyak melakukan penyimpangan seperti tidak jujur, suka menipu dan bahkan melakukan korupsi.  Orang semacam ini bisa sangat berbahaya, karena ia pandai namun tidak berakhlak.  Nah tipe yang ketiga yaitu mereka yang memiliki Akhak/karekter yang baik dan memiliki kompetensi yang tinggi. Tentu inilah idaman dan cita-cita setiap lembaga pendidikan. 

Fungsi sekolah sebagai lembaga pendidikan harus menghasilkan lulusan yang berakhlak/berkarakter.  Karakter seseorang dapat dilihat dari dua dimensi yaitu Karakter beragama, yang ini bersifat baku dan mengikuti tuntunan dari yang maha pencipta Allah SWT seperti jujur, amanah, taat dalam menjalankan syariat agama. dan kedua karakter kinerja atau sikap kerja seperti sikap teliti, ulet, kerja keras, pantang menyerah. Kendati demikian karakter beragama dan karakter kinerja ini dapat saling beririsan, tidak bisa 100% terpisah.  Pemisahan ini hanya untuk membantu kita melihat lebih detil sehingga mudah di turunkan menjadi konsep dan kurikulum yang dapat dijalankan. 

Akhlaq/karakter beragama bersifat tetap, yaitu akhlaq pada Allah dan Rasulullahnya, akhlaq pada kedua orangtua dan guru, akhlaq pada sesama, akhlaq pada lingkungan, dan akhlaq pada diri sendiri.  Beberapa contoh akhlaq yang sangat dibutuhkan  yaitu jujur, peduli, bertanggungjawab, dan adil.  Proses pembentukan akhlaq beragama yang utama adalah melalui keteladanan dan terbentuknya lingkungan yang baik.  Cetak biru pembentukan akhlaq beragama ini telah disiapkan oleh Allah secara detil, lengkap, dan sempurna, sehingga tugas kita mengikutinya dengan sungguh-sungguh.   

Karakter kinerja atau sikap kerja merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh setiap orang.  Ketangguhan/kegigihan (grit/persistance) seperti bersungguh-sungguh, ulet tidak mudah menyerah, teliti dalam bekerja, lincah, adaptif terhadap perubahan, rapi dalam bekerja, displin waktu, luwes dalm berinteraksi, bertanggungjawab, dan antusias merupakan beberapa sikap kerja yang sangat mendasar.  Seseorang yang memiliki karakter kinerja baik, maka dia akan memiliki performa kinerja yang bagus.  Ini tentu menjadi modal untuk berhasil dan berkembang.

Fungsi sekolah sebagai lembaga pembelajaran akan memberikan bekal kompetensi pada anak.  Kompetensi dapat digolongkan menjadi dua yaitu kompenetsi dasar dan kompetensi khusus.  Kompetensi dasar dibutuhkan oleh setiap orang, dan dalam segala jenis pekerjaan. Sedangkan kompetensi khusus  dibutuhkan sesuai dengan bidang pekerjaannya. 

Kompetensi dasar dapat diwujudkan dengan mengoptimalkan semua fungsi indera dan segala hal yang diberi   Allah SWT pada manusia, seperti pendengaran, penglihatan, peran tangan dan kaki, lisan/mulut yang kita miliki, semuanya pemberian ini harus dioptimalkan fungsinya.  Penglihatan dan pendengaran digunakan untuk  menyerap data dan informasi yang dibutuhkan, serta membuang yang tidak perlu.  Potensi lisan harus tumbuh untuk bisa melakukan komunikasi, negosiasi, berpidato, memberi motivasi, menjelaskan, berdialog, dan lain-lain.  Potensi alat gerak (tangan dan kaki) dapat digunakan untuk menulis, mengetik, berolahraga, atau mengerjakan sesuatu yang lainnya.  Kompetensi dasar yang kokoh akan mendorong seseorang untuk bisa dan mudah beradaptasi dengan situasi yang berubah begitu cepat.  

Kemampuan beradaptasi seseorang akan semakin kokoh dan terstruktur manakala mereka juga memiliki bekal pengetahuan yang memadai.   Pengetahuan faktual dibutuhkan agar sesorang terampil memandang fakta, data, informasi, fenomena yang kemudian dihubungkan dengan konsep ilmu, yang akan menghasilkan prosedur pemecahan masalah yang dibutuhkan dalam kehidupan. Adakalanya prosedur-prosedur baku yang sudah ada tidak mampu menyelesaikan masalah yang sangat komplek sehingga manusia memerlukan bekal kompetensi pengetahuan metakognisi. Perpaduan kompetensi dasar dan bekal pengetahuan inilah yang akan mewjudkan sumberdaya manusia yang adaftif, inovatif, dan berkelanjutan.

Sedangkan kompetensi khusus adalah bentuk keahlian dalam bidang  tertentu, dan akan sangat cepat kedaluarsa, expired, tidak relevan lagi, dan ketinggalan zaman.  Keahlian dalam bidang tertentu terus mengalami perubahan ke arah yang semakin modern. Gabungan antara kemampuan berpikir dan keterampilan manusia, dielaborasi dengan  kemajuann teknologi telah menghasilkan berbagai alat kerja, cara kerja, yang semakin mudah, murah, cepat, dan luas.   Berbeda dengan kompetensi dasar yang akan cocok untuk waktu yang sangat panjang.

Dengan memperhatikan realitas kehidupan hari ini, mencermati model sekolah yang sedang berjalan saat ini, dan memperhatikan kebutuhan masa depan anak didik dan bangsa Indonesia, tentu sangat penting agar kita segera berubah secara nyata.  Sekolah perlu memberikan bekal yang cukup dan nyata pada setiap anak didik yaitu akhlaq/karakter beragama, akhlak/karakter kinerja, kompetensi dasar, dan kompetensi khusus.  Untuk itu maka disain kurikulum dan model pengelolaan sekolah harus dilakukan perubahan secara total dan mendasar.  Saatnya kita rumuskan konsep “Agile Education”, yaitu konsep sekolah yang bersifat lincah  dan taktis. 

  • Agile Education (AE) menjawab kebutuhan Masa Depan

Agile Education adalah kerangka konsep pembelajaran generasi masa depan. Agile Based Learning Environment (ABLE) atau Lingkungan Pembelajaran Berbasis Agile, adalah sebuah lingkungan pendidikan dimana berpusat pada pemberdayaaan siswa dan mengubah budaya sekolah menjadi model pembelajaran abad ke-21 yang berkembang pesat. Sekolah yang menerapkan lingkungan pendidikan dan pembelajaran berbasis Agile Education akan menjadi bagian  dari transformasi yang bersemangat untuk kebaikan sosial, melibatkan pembelajaran di masa sekarang, dan membantu siswa berkembang di masa depan.

Agile Education (AE)  mendekatkan sekolah dengan kehidupan nyata, bukan dengan buku-buku, laboratorium, referensi yang tebal dalam perpustakaan, sibuk membuat makalah dan presentasi tentang teori-teori yang bagus. Konsep AE memberikan perhatian pada 4 hal yaitu disain kurikulum, proses pembelajaran, peran guru, dan sistem evaluasi. 

Sebagai gambaran awal bahwa masa depan membutuhkan disain kurikulum yang simple, fokus, dan fleksibel.  Simple artinya kurikulum dapat disusun secara sederhana, dengan menyediakan kompetensi inti yang ingin dicapainya.  Fokus berarti kurikulum melayani kebutuhan anak, bukan lagi tugas semua anak mempelajari semua materi kurikulum yang sama.  Sedangkan fleksibel artinya kurikulum bisa segera berubah sesuai kebutuhan, tidak memerlukan waktu yang terlalu lama dan panjang.  Setiap anak hanya akan belajar sesuatu yang memang diminati, dan akan ditekuni untuk menjadi suatu keahlian tertentu.  Jumlah mata pelajaran akan menjadi  banyak, karena untuk melayani ragam kebutuhan anak yang berbeda-beda.  Namun setiap anak akan belajar lebih sedikit mata pelajaran dibandingkan sekarang, karena ia hanya akan belajar materi yang dibutuhkan.

Bagaimana kurikulum yang berkaitan dengan nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme? Nilai-nilai kebangsaan dan rasa nasionalisme harus ditanamkan dalam bentuk prilaku nyata dalam khidupan sehari-hari.  Diantara ciri seseorang yang nasionalis yaitu menghargai perbedaan yang ditunjukkan dengan sikap tidak bermusuhan, tidak berdebat untuk kalah menang di media, tidak mencontek dan tidak korupsi, serta berkontribusi terhadap agenda bangsa dan pembangunan Indonesia. Sedangkan untuk pengetahuan tentang nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme cukuplah disediakan referensi di dunia maya, susunlah secara komprehensif, dan sistematis. Jika diperlukan sediakan tes online penguasaan materi yang skornya dapat dijadikan pasword untuk bisa mengakses pelayanan pemerintah, dan fasilitas pendidikan lainnya.  Misal jika seseorang akan membuat SIM maka harus punya skor tes online nilai-nilai kebangsaan, sehingga nilai-nilai nasionalisme akan terus terbaharukan dalam pribadi setia warga negara, bukan hanya jadi mata pelajaran di bangku sekolah.

Agile education untuk aspek pembelajaran akan menempatkan kegiatan belajar tidak hanya terbatas di sekolah (boorderless classroom). Untuk itu maka dibutuhkan tools teknologi yang dapat mendukung prinsip  tersebut.  AE akan mengutamakan  e-leraning dengan beragam platform belajar online, sesuai dengan kebutuhan dan karekteristik pemakainya.  Beberapa sekolah-sekolah di Indonesia telah berhasil mengembangmkan sendiri platform pembelajaran untuk menyambut pendidikan masa depan.

AE dirancang agar  70% aktivitas belajar anak dapat dilakukan  secara mandiri, waktu serta tempatnya fleksibel, dan tidak harus datang ke sekolah.  Pembelajaran bukan berfokus pada penguasaan materi, namun pada pembentukan kompetensi.  Materi pelajaran adalah tools untuk terbentuknya kompetensi.  Sementara yang 30% waktu dapat digunakan tatap muka untuk menuntaskan  hal-hal yang belum bisa diselesaikan melalui daring.  Agile education akan berdampak pada cara guru mengajar dan membimbing siswa. Dalam agile education keberhasilan proses pembelajaran sangat di tentukan oleh 3 faktor yaitu komitmen dan tanggungjawab guru dalam mefasilitasi pembelajaran, sikap dan budaya belajar anak, dan ketersediaan teknologi dan tools yang memadai.  

Agile education untuk aspek pendidikan  menempatkan sekolah ibarat kota Makkah dan Madinah bagi muslim seluruh dunia.  Mereka berbondong-bondong menuju ke kota suci itu untuk memperbaiki diri, akhlaq, ketaqwaan, kahalusan budi, kedermawanan, kesiapan berkorban, kemamapuan menolong sesama, rasa bersaudara, dan lain-lain. Bagi muslim seluruh dunia Makkah dan Madinah adalah tempat menempa dan menyucikan jiwa, tempat meluruskan tujuan hidup dan fokus pada Allah SWT.  Proses pembentukan Akhlak/Karekter beragama dan akhlak/karakter kinerja dibentuk melalui proses pendidikan langsung di sekolah malalui penularan dari para pendidik, kegiatan pembiasaan, kegiatan pelatihan, dan kegiatan magang/praktik langsung di lapangan. 

Aktivitas yang dilakukan anak di sekolah dalam pembentukan akhlaq/karakter merupakan contoh langsung dari para pendidik, praktik-praktik kebaikan secara nyata, bukan lagi teori dan ujian-ujian tertulis.  Ilmu agama disampaikan sebagai landasan apa yang sedang dipraktikkan.  Diskusi-diskusi tentanag pengalaman praktik kebaikan dari setiap siswa dalam kelompok-kelompok kecil akan mengokohkan akhlaq mereka.  Demikianlah ilustrasi agile education menetapkan fungsi sekolah dan guru dalam hal pembentukan akhlaq.  Pengokohan pembentukan akhlaq tentu membutuhakn peran orangtua dan rumah sebagai lingkungan yang kondusif.

Demikian juga pembentukan Akhlak kinerja, peran sekolah adalah mencitpakan lingkungan dan jejaring agar mereka terlatih memiliki akhlak kinerja yang bagus dan relevan.  Akhlak kinerja yang kompatibel dengan kebutuhan riil di lapangann.  Peran sekolah akan bergeser semacam lembaga training SDM, yang akan memperbaiki attitude dan skill para karyawannya.  Untuk mengokohan proses pembentukan akhlak/karater beragama dan akhlak/karakter kinerja maka sekolah membutuhkan jejaring dan partner berbagai perusahaan, instansi pemerintah, para tokoh, pakar, tenaga ahli, peguasaha, pejabat, TNI dan lain-lain sesuai dengan bidang yang akan ditekuni  anak-anak kita.  Akhlak/karakter kinerja di dunia militer tentulah berbeda dengan birokrasi, apalagi dunia usaha. 

Nah dengan demikian proses pendidikan dalam agile education akan mendefinisikan 3 segtiga emas baru yaitu siswa-guru-orangtua, sekolah-rumah-masjid, dan sekolah/guru-siswa/rumah-pengusaha/pejabat/perusahaan/instansi pemerintah.

Bagaimana peran guru?  Guru berperan sebagai motivator, pendamping, dan coach bagi setiap anak. Untuk itu maka guru harus belajar secara cepat, dan sistematis, serta fokus pada kemampuan yang diperlukan untuk bisa menjalankan peran tersebut.  Hal pertama yang harus diupgrade adalah keterampilan dalam menggunakan teknologi.  Kenapa demikian? Inilah ciri berpikir lincah dan taktis  dalam agile education. Jika hambatan teknis guru dalam mewujudkan segera diselesaikan maka proses upgrade akan lebih cepat selesai, dan guru lebih antusias untuk terus belajar dan berkembang. 

Kedua kita perlu membangun perspektif positif pada guru bahwa semua mereka bisa berkembang, karena pada mulanya mereka telah diseleksi dari ribuan calon guru, telah mendapatkan bekal beragam pelatihan, telah memiliki segudang pengalaman.   Mungkin waktu dan tingkat capaianya yang berbeda.  Asumsi ini akan lebih ramah bagi kedua belah pihak, pribadi guru juga bagi sekolah, yayasan, dan pemerintah dalam hal ini kementrian pendidikan dan kebudayaan. Pandangan ini akan menjadikan yayasan atau Kemdikbud sebagai agile organization.  

Nah bagian akhir yaitu agile education memilih model evaluasi berbasis pada capaian nyata akhlaq dan kompetensi yang sudah dirancang sejak awal, tidak terlalu membebani dengan tes-tes tradisional. Tentu saja pandangan ini memerlukan pendalaman, namun ingat jangan sampai terjadi seperti kata pepatah, penari baru naik panggung untuk menari, pada saat pemukul musik sudah berhenti mengirinya.  Agile education akan menjadi pilihan bagi kita untuk segera disiapkan dan diwujudkan, atau terpaksa sekolah kita menjadi agile karena lingkungan dan keadaan yang memaksa untuk berubah.

Oleh: Dr. Mohammad Zahri, M.Pd.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Hubungi Admin